SEKILAS INFO
: - Selasa, 19-11-2019
  • 1 hari yang lalu / Tim Debat Ilmu Hukum UIN SGD Bandung berhasil meraih Juara I  Lomba Debat Hukum Nasional yang diselenggarakan oleh Tirtayasa Law Debate Community (De`Recht) Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  • 1 bulan yang lalu / Selamat dan Sukses atas dilantiknya Ketua dan Sekretaris Jurusan Ilmu Hukum Periode 2019-2023, Dr. H. Utang Rosidin, S.H., M.H. dan Muhammad Kholid, S.H, M.H.
Sejarah, dan Kemakmuran Rakyat Berdasarkan Pancasila dan UUD’45.

[Ilmuhukum.uinsgd.ac.id] Sudah sejak zaman dahulu Indonesia dikenal dengan julukan negara maritim dan agraris. Hal tersebut sesuai dengan sejarah bangsa ini ketika masih dalam nama Nusantara, hasil rempah seperti cengkih, kopi, sawit dan lain sebagainya menjadi primadona bangsa lain yang berniagawan di Nusantara tempo dulu.

Memasuki masa penjajahan, penderitaan bangsa Nusantara terus saja berlangsung. Penjarahan demi penjarahan hasil bumi menjadi pemandangan yang lumrah di setiap harinya.  Kesejahteraan rakyat terampas, jangankan untuk sejahtera tertawa pun tak bisa. Hal tersebut berlangsung selama lebih kurang 350 tahun, atau 3,5 abad lamanya. Rakyat dipaksa untuk membayar upeti lantas harus juga melakukan tanam paksa di negerinya sendiri.

Lintang khatulistiwa yang melewati pulau Kalimantan, membuat iklim  yang ada di indonesia menjadi tropis. Karenanya tanah Indonesia menjadi tanah yang bagus untuk di tumbuhi tanaman jenis apapun. Bahkan sampai dituangkan pada sebuah lagu dengan syarir, orang bilang tanah kita tanah syurga tongkat kayu, dan batu jadi tanaman. Kemudian konstiusi Kesatuan republik Indonesia (Undang-Undang Dasar 1945) dituangkan dalam Pasal 33 ayat 3 yang berbunyi Bumi, Air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kekayaan-kekayaan tersebut tidak nampak adanya, dengan masih tingginya angka kemiskinan di Negara Indonesia ini. Padahal menurut Bappernas 26,58 juta jiwa pada tahun 2017 itu merupakan angka yang sudah di kurang karena mengalami penurunan sebanyak 1,18 juta jiwa dari yang semula pada tahun 2016 27,76 juta jiwa (Kompas.com). Angka 26,58 menurut saya bukan hal yang lebih baik, walaupun angka kemiskinan turun mencapai angka 1,18 juta. Tidak sepadan dengan potensi alam yang ada di Indonesia, baik agraris ataupun maritimnya. Apakah hasil bumi dari tanah Indonesia ini tidak mencukupi untuk memberi kesejahteraan seluruh masyarakat? jelas tidak, jika tanah air dan yang terkandung di dalamnya tidak digunakan untuk sepenuhnya kepentingan rakyat, tidak akan mengenal kesejahteraan jika bidikan pemerintah dalam pemanfaatna sumberdaya hanya untuk segelintir orang.

Kemudian, pernyataan yang harus sangat tegas di lontarkan adalah Indonesia itu tanah syurga dan tidak ada syurga yang terbuat dari beton, kaca, dan besi apalagi semen. Tidak akan tumbuh subur apapun di negeri ini jika yang di semai adalah semen, beton dan baja. Seharusnya ketika Indonesia memang harus membangun untuk kemakmuran. Tidak sebatas bangunan yang menjulang yang diperioritaskan. Aspek tanah, lingkungan hidup, udara dan air juga harus menjadi bahan pertimbangan. Sejatinya ruh dan raga yang tidak bisa dipisahakan begitupun manusia dengan alam (botani) jelas tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena lingkungan yang sehat adalah aset yang paling beharga untuk keberlangsungan hidup manusia.

Ketika bangsa ini tidak dapat bersaing dalam pekembangan teknologi, apalagi dalam sektor pendidikan yang jelas-jelas mengkiblat ke luar. Indonesia sebetulnya bisa mengkiprahkan dirinya dalam sektor agraris dan maritim. Hanya saja hal ini banyak di lupakan oleh generasi muda. Karena memang maindset yang sudah terotak atik oleh pengaruh zaman yang tidak bisa di hindarkan, tentang stigma masyarakat yang matrealistis dan pragmatis sehingga lebih baik menjual lahan garapan, ladang, sawah dan ternak untuk bisa meraih sukses yang bersifat metrealistis.

Sebetulnya tidak perlu ada yang bisa di impor dari luar selama tanah di Indonesia itu masih di bentangi oleh khatulistiwa. Kecuali memang kandungan tanah yang sudah di racuni oleh aktifitas-aktifitas biota-biota yang hidup diatas biosfer ini terutama manusia. Tidak perlu impor jagung, beras, gula, bahkan yang sekarang sedang menjadi sorotan adalah import singkong yang notebane dari sebagian besar orang beranggapan bahwa singkong adalah makanan kampung yang terkesan biasa saja.

Menyambung dengan yang telah dijelaskan diatas sedikit tentang sejarah kelam bangsa ini. Bahwa bangsa ini dijajah karena sugihnya, di rampok karena kayanya, di perkosa karena cantiknya. Lantas ketika sudah merdeka, tidak kah kelebihan itu menjadi daya jual yang memang harus ditinggikan agar sejarah kelam tidak terulang. Namun tidak semua memahami jauh tentang sejarah, tentang tujuan dari bangsa ini di persatukan. Dan tujuan dari negara ini dibentuk, generasi muda sepatutnya memaknai dalam tentang Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Supaya negeri ini tidak sampai tergadaikan apalagi terjual.

Setelah itu barulah Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang dasar 1945 ini bisa kita wujudkan, karena tujuan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur. Kemakmuran rakyat hanya akan tercapai apabila negara ini sudah Bersatu, Berdaulat, dan Adil. Agraris dan Maritim hanya akan menjadi kalimat-kalimat pujangga saja apabila kesdaran dari selruh element masyarakat khususnya generasi mudanya untuk bisa bersatu. Karena bangsa ini terlahir atas kerelaan-kerelaan egoisme pribadi yang rela menurunkan takhta-takhtanya untuk bersatu. Kemakmuran yang berdasarkan Pancasila dan UUD’45 adalah kemakmuran atas penjiwaannya. Maka negeri ini tidak akan pernah mencapai kata makmur tanpa bisa memaknai, menghayati, mengaplikasikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. –Ana Herlina