SEKILAS INFO
: - Selasa, 19-11-2019
  • 1 hari yang lalu / Tim Debat Ilmu Hukum UIN SGD Bandung berhasil meraih Juara I  Lomba Debat Hukum Nasional yang diselenggarakan oleh Tirtayasa Law Debate Community (De`Recht) Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  • 1 bulan yang lalu / Selamat dan Sukses atas dilantiknya Ketua dan Sekretaris Jurusan Ilmu Hukum Periode 2019-2023, Dr. H. Utang Rosidin, S.H., M.H. dan Muhammad Kholid, S.H, M.H.
MEMANCING DALAM PEMILU

[Ilmuhukum.uinsgd.ac.id]  Satu-satunya jalan dunia ini untuk mempengaruhi orang lain adalah dengan jalan membicarakan tentang apa yang mereka inginkan dan menunjukkan jalan bagaimana mereka bisa memperolehnya (Dale Carnegie).

Secara sepintas membaca judul ini pasti berfikir dan bertanya apa hubungannya memancing dengan politik. Orang pintar bisa saja memvonis tidak ada hubungannya antara memancing dengan politik, tetapi orang cerdas mencoba melihat lebih jauh , mendengar lebih tajam danberfikir lebih analisis, dalam mengapresiasi suatu informasi atau konsep untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikirannya. Disinilah menariknya, karena untuk menjadi politisi hebat dan terampil tidak cukup hanya pintar tetapi harus cerdas. Politisi pintar biasanya menjadi petarung yang berakhir sebagai pecundang. Sementara politisi cerdas biasanya menjadi pemenang. Berangkat dari pemikiran itulah hanya politisi cerdas yang bisa memakai teori memancing dalam memenangkan pemilu.

Rekonstruksi dalam teori memancing dalam pemilu ini adalah “Hobi saya memancing, tetapi kegemaran saya makan pisang bakar.entah apa alasannya ikan sangat suka cacing. Jika sedang memancing tidak memikirkan apa yang saya suka, tetapi memikirkan apa yang disukai ikan. Jika ingin mata pancing mendapatkan ikan saya tidak memberi umpan pisang bakar, tetapi memberi umpan cacing”. Nampaknya sederhana dan bisa dilogikakan, lalu mengapa tidak memakai teori memancing ini jika ingin mendapatkan suara dalam pemilu.

Di musim pemilu , baik pemilu Presiden , pemilu legislatif , dan pemilukada , semua politisi pada dasarnya tanpa disadari sedang mengikuti lomba memancing memperebutkan kursi kekuasaan.untuk mendapatkan ikan seorang pemancing tidak sekedar hanya mengayunkan seekor cacing atau belalang di depan ikan , tetapi harus memahami strategis kapan harus menarik mata pancingnya ketika sudah disambut ikan. Faktanya walaupun sudah masuk ke mulut ikan mata pancingnya bisa saja lepas lagi kalau tidak tepat cara menariknya. Tidak jarang juga ditemui seorang pemancing mengalami kekecewaan dan putus asa karena umpan yang diberi hanya  habis dipermaikan ikan.

Begitu pula dalam musim pemilu , politisi berlomba – lomba mencari pengaruh di setiap komunitas masyarakat dengan berbagai metode pendekatan. Umumnya politisi datang memperkenalkan dirinya , visi misinya , dan mengutarakan janji –janji politiknya di hadapan rakyat tanpa memahami terlebih dahulu apa keinginan rakyat yang selama ini diabaikan penguasa. Politisi mendatangi rakyat membawa keinginanya untuk dipilih nanti dalam pemilu. Politisi datang menemui pemilih membawa pikiranya ingin dibantu memenangkan pemilu. Apa yang terjadi kemudian , rakyat yang sudah berkumpul menunggunya kurang mengapresiasinya karena salah memberikan umpan yang bisa menarik pemilih memberikan suaranya.

Jadi pada dasarnya politisi pintar itu egois , karena mau-nya apa yang dipikirkan itu juga yang dipikirkan rakyat , apa yang diinginkan itu juga yang diinginkan rakyat. Inilah kebodohan terbesar yang dihadapi politisi , selalu menyamankan keinginan dirinya sebagai politisi dengan keinginan rakyat sebagai pemilih. Semestinya dibalik , keiginan pemilih yang harus disamakan dengan keinginan politisi untuk diperjuangkan. Bukankah dari dulu keinginan politisi hanya satu ingin berkuasa , dan bukankah keinginan rakyat dari dulu hanya satu ingin hidupnya damai dan sejahtera. Kalau politisi mendatangi rakyat membawa keinginan dan harapannya sendiri , bersiaplah ditinggal rakyat. Tetapi jika politisi datang membawa kesederhanaan dan kerendahan hati untuk mendengarkan keinginan dan harapan rakyat , dan mencari solusi alternatif untuk mewujudkannya , ini jauh lebih dahsyat dalam mempengaruhi pemilih.

Kata kunci yang ditawarkan Dale Carnegie  dalam mencari pengaruh apa pun bentuknya yang yang perlu dinamai politisi adalah ; ‘satu- satunya jalan didunia ini untuk mempengaruhi orang lain adalah dengan jalan membicarakan tentang apa yang mereka inginkan dan menunjukkan jalan bagaimana mereka bisa memperolehnya.’ Jadi kalau ingin memancing dan mendapatkan suara rakyat dalam pemilu, pikirkanlah apa kesukaan dan harapan semua rakyat tidak susah- susah amat, kalau ada niat dan kemauan untuk mewujudkannya. Pada dasarnya politisi hanya menjadi mediator  antara apa keinginan rakyat dengan kemampuan negara untuk memenuhinya. – Muhamad Rizki

_____________________________

Muhamad Rizki (Mahasiswa Ilmu Hukum UIN SGD dan Ketua umum KEMPAKA Bandung Raya)